Minggu, 11 April 2010

Istriku yang tersayang !


Teruntuk Istriku yang tersayang,

Sore ini aku tidak dapat segera pulang, banyak tugas yang belum tuntas harus kuselesaikan. Terkirim SMS-mu menanyakan kapan aku pulang ? hmm... Insya Allah aku baru bisa pulang pada malam hari, mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang karena ia telah lelap dalam tidurnya.

Istriku .......
Aku tahu, betapa berat tugas dan tanggung jawabmu di rumah, pekerjaan mu padat dan berat yaitu memasak, mencuci, menyapu, menyetrika dan semua urusan rumahtangga. Letih dan lelah demi semuanya, belum lagi menyusui dan mendidik anak-anak serta menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.
Engkau tidak diperintahkan untuk sholat jumat berjama'ah, tidak pula diwajibkan atas jihad berperang dengan senjata. Namun Istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria. Mengapa ?

Kisah seorang utusan wanita "Asma binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu 'alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya.

Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah berkata kepada Nabi s.a.w : 
Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu jiwaku sebagai tebusanmu bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku. Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanita, maka kami beriman kepadamu dan kepada Allah yang telah mengutusmu. Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya), menjadi penjaga rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila keluar berjihad, kami yang menjaga harta kalian dan mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian hai Rasulullah ?

Nabi shollallahu 'alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata : "Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini ? Mereka menjawab, Hai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.
Nabi shollallahu 'alaihi wa sallama menoleh kepadanya (Asma) kemudian berkata kepadanya : "Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya serta mengikuti keinginannya itu artinya sama dengan menandingi itu semua". Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abil Iman).

Istriku .......
Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku' dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar karena ia akan menganggap pekerjaan di rumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak temasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.
Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang bathin maupun zhohir. Sholat, Zakat, Puasa, Haji, berkata jujur, menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin termasuk juga berbuat baik kepada binatang. Ibadah lainnya seperti berzikir, berdo'a, membaca Al Qur'an begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut akan azab-Nya, bertaubat kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya, bersabar terhadap keputusan-Nya, mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya.

Jadi ibadatullah adalah tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya karena Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya :
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku" (QS. Dzariyat : 56)

Istriku .......
Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah Maha Pencipta dan perbaikilah niatmu.

Terakhir, semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho dan cinta-Nya. Amiiin

Author by Abu Zubair Hawaary

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar